Kutai Timur —Kecamatan Sandaran kembali menjadi sorotan setelah Anggota DPRD Kutai Timur (Kutim), Akhmad Sulaeman, mengajukan enam proyek infrastruktur prioritas untuk mengakhiri keterisolasian wilayah pesisir tersebut.
Enam proyek itu terdiri dari lima ruas jalan dan satu pelabuhan, yang disebut mendesak karena Sandaran hingga kini masih menjadi kecamatan dengan akses paling sulit di Kutim.
Akhmad menegaskan, absennya pelabuhan di kecamatan yang seluruh wilayah depannya menghadap laut merupakan ironi yang tidak bisa dibiarkan lebih lama.
Ia menilai pelabuhan bukan sekadar fasilitas penunjang, melainkan urat nadi mobilitas masyarakat, distribusi logistik, dan akses layanan publik.
“Lokasinya diusulkan berada di muara sungai agar tetap menjadi kewenangan pemerintah kabupaten sehingga proses pembangunan tidak harus menunggu keputusan pemerintah provinsi,” ungkapnya.
Ia memaparkan bahwa akses darat menuju Sandaran dan Tanjung Mangkalihat praktis terputus’ memaksa masyarakat melintasi wilayah Kabupaten Berau untuk keluar-masuk kecamatan tersebut.
Kondisi ini bukan hanya menghambat perjalanan, tetapi juga menyebabkan hilangnya sinyal, minimnya konektivitas, dan terputusnya alur komunikasi.
“Akses laut menjadi satu-satunya pilihan realistis sampai jalur darat benar-benar layak digunakan,” katanya.
Selain pelabuhan, lima ruas jalan yang diusulkan disiapkan untuk menyambungkan desa-desa yang selama ini terisolasi serta memastikan kebutuhan harian warga dapat terdistribusi dengan lebih mudah.
Akhmad menargetkan pengerjaannya dilakukan secara bertahap pada 2026–2028, dengan minimal dua proyek dimulai setiap tahun.
Tidak hanya menyoal infrastruktur fisik, ia juga menyoroti ketimpangan pendidikan yang disebutnya jauh tertinggal dibanding kecamatan lain.
Untuk itu, ia mengalokasikan 30 persen pokok pikiran untuk intervensi pendidikan dasar dan menengah.
“SD dan SMP di Sandaran masih tertinggal. Saya pastikan ada intervensi nyata di sana,” tegasnya.
Akhmad menyebut enam usulan ini sebagai langkah percepatan pemerataan pembangunan di wilayah pesisir yang selama bertahun-tahun terisolasi secara geografis maupun infrastruktur.
“Kita berharap dukungan penuh dari pemerintah daerah agar masyarakat Sandaran dapat menikmati akses layak, layanan publik optimal, dan konektivitas yang lebih manusiawi dalam beberapa tahun ke depan,” demikian Sulaeman.ADV
![]()












