Kutai Timur — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh Presiden RI Prabowo Subianto ini mendapat sambutan positif di Kecamatan Batu Ampar. Namun, pelaksanaannya di lapangan masih terkendala standar dapur yang tinggi dan jarak antar desa yang cukup jauh.
Camat Batu Ampar, Suriansyah menjelaskan bahwa pemerintah kecamatan sangat mendukung program tersebut karena manfaatnya langsung dirasakan oleh anak sekolah.
“Standarisasi dapur MBG itu seperti dapur militer, bahkan seperti restoran cepat saji,” ujar Suriansyah saat diwawancarai.
Kendati demikian, standar yang ketat justru menyulitkan penerapan di daerah yang kondisi geografisnya sulit.
“Kalau di Batu Ampar, satu dapur hanya bisa melayani tiga desa. Tapi kalau mau menjangkau semua, minimal harus tiga dapur,” jelasnya.
Untuk menyiasati hal itu, Suriansyah mengusulkan pendekatan yang lebih fleksibel, yakni melibatkan pelaku kuliner lokal.
“Saya lebih setuju kalau dapurnya diserahkan ke kantin sekolah atau pelaku kuliner yang sudah ada di kampung. Jadi bisa memberdayakan masyarakat,” ucapnya.
Ia menilai, solusi seperti ini justru bisa memperluas manfaat program sekaligus membuka lapangan kerja baru. Pemerintah setempat kecamatan siap mendukung pendataan pelaku usaha yang memenuhi syarat standar kebersihan.
Langkah ini mencerminkan upaya pemerintah daerah dalam menyesuaikan kebijakan nasional dengan kondisi lapangan, tanpa mengurangi semangat untuk memberikan gizi terbaik bagi anak-anak sekolah. (ADV/TS)
![]()












