Sangatta – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali marak di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam beberapa pekan terakhir. Hampir setiap hari, laporan insiden Karhutla diterima oleh pihak berwenang. Fenomena ini memicu kekhawatiran serius mengingat dampak buruknya terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Anggota DPRD Kutim, Sayid Anjas, mengungkapkan keprihatinan atas situasi ini.
“Cuaca panas di Kutim memang menjadi faktor pemicu utama, namun tidak dapat dipungkiri bahwa ada juga oknum yang sengaja membakar lahan,” tuturnya.
Sayid Anjas menduga tindakan pembakaran ini dilakukan untuk membuka lahan pertanian atau keperluan lain, meskipun praktik ini sangat berbahaya dan merugikan. Selain itu, ia juga menyoroti kurangnya upaya reboisasi dari pihak Pemerintah Daerah (Pemda) sebagai langkah pencegahan dan pemulihan.
“Sepertinya Pemda belum melakukan reboisasi di area yang terbakar. Padahal reboisasi sangat penting untuk memulihkan lahan dan mencegah kebakaran serupa di masa depan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Sayid Anjas menekankan pentingnya kolaborasi antara Pemda, masyarakat, dan pihak terkait lainnya dalam mengatasi Karhutla. Sosialisasi tentang bahaya pembakaran lahan dan implementasi kebijakan yang tegas diharapkan dapat mengurangi insiden kebakaran di Kutim.
Penting untuk diingat bahwa hutan memiliki peran vital sebagai penyangga ekosistem dan penyerap karbon. Kerusakan akibat Karhutla tidak hanya membahayakan kesehatan masyarakat, tetapi juga memperparah krisis iklim.
Oleh karena itu, upaya mitigasi seperti reboisasi harus segera dilakukan untuk memulihkan lahan yang terbakar dan mencegah Karhutla terulang kembali. Mari bersama-sama menjaga kelestarian alam dan kesehatan bumi demi masa depan yang lebih baik.ADV
![]()












