Sangatta – Kabupaten Kutai Timur dihadapkan pada tantangan serius mengenai eliminasi batu bara sebagai sumber energi utama pada tahun 2050. Kabupaten ini sejak lama bergantung pada sektor batu bara sebagai salah satu pendorong ekonomi utama.
Pemerintah Kabupaten Kutai Timur telah menerima informasi dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengenai eliminasi batu bara dan prediksi bahwa Kutai Timur diharapkan menjadi bagian dari superhub ekonomi Ibu Kota Nusantara atau IKN.
Meskipun sektor batu bara menjadi kekuatan fisik Kutai Timur dan salah satu penopang ekonomi utama, namun prediksi mengenai eliminasi batu bara pada tahun 2050 membuat Pemkab Kutai Timur menyadari perlunya penyesuaian strategi pembangunan ekonomi daerah.
“Batu bara masih menjadi kekuatan fisik kita, namun kita perlu menyesuaikan diri dengan perubahan paradigma energi. Tahun ini, APBD perubahan mencapai Rp 9,1 miliar, dan kita harus mempersiapkan proyeksi APBD Kutai Timur untuk 2024,” ujar Bupati Ardiansyah Sulaiman.
Dalam mengatasi dampak ekonomi yang mungkin terjadi, Ardiansyah menegaskan perlunya diversifikasi sektor ekonomi.
Kutai Timur memiliki sumber daya alam yang melimpah, termasuk kehutanan, pertanian, perikanan, kelautan, dan pariwisata. Namun, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, Pemkab Kutai Timur menyoroti pentingnya pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy.ADV
![]()












