Sangatta – Pola ternak liar masih menjadi patokan peternak di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam menggembalakan sapi sehingga perkembangbiakan dan kelahiran sapi dalam satu tahun tidak dapat dipastikan.
Hal ini membuat Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim harus memutar otak untuk mencari cara menstabilkan angka kelahiran dan produksi sapi di Kutim dari tahun ke tahun.
Kepala Bidan Peternakan DTPHP Kutim Kurniawan mengatakan program kawin suntik menjadi salah satu solusi dari permasalahan tersebut.
Kurniawan mengatakan bahwa program ini sudah berjalan dengan melakukan pendekatan kepada peternak mengenai tata cara dan proses yang harus mereka lakukan, Namun Kurniawan mengakui program kawin suntik belum dapat difasilitasi secara maksimal.
“Sambil menunggu fasilitasi, kami melakukan sosialisasi dan membuat mereka memahami pentingnya program ini dan bagaimana cara menstabilkan sapi-sapi tersebut,” katanya.
Sosialisasi ini terus diperkuat pihaknya sembari melaksanakan program kawin suntik di 18 kecamatan di Kabupaten Kutim.
“Kami sebenarnya memiliki kandang, tapi mereka melepaskan sapi tersebut di perkebunan kelapa sawit, bukan di kebun sendiri, dan saat itulah mereka menjadi liar, ini yang disebut pola ternak liar atau ekstensif,” ungkapnya.
Sebagai akibat dari pola ekstensif, Kurniawan menyebutkan tidak hanya kesempatan berkembang biak bagi sapi menjadi terbatas, tetapi orang lain dan masyarakat sekitar juga mengalami kerugian karena tanaman mereka dilindas dan dimakan oleh sapi liar.
“Karena ketika kami mulai menerapkan program kawin suntik, mereka [peternak] mengatakan bahwa sulit untuk memasukkannya ke dalam kandang. Bahkan, tidak jarang mereka menyuruh kami untuk mencari mereka sendiri karena mereka telah berubah menjadi banteng hutan,” jelasnya.
Pada pemeliharaan sapi liar, sulit bagi pemilik untuk mengetahui kapan sapi dalam masa estrus dan apa saja tanda-tandanya sebagai patokan untuk penyuntikan sperma.
Periode estrus adalah waktu yang paling tepat untuk inseminasi buatan (IB) karena ini adalah periode inseminasi ketika induk sapi kemungkinan besar akan bunting.
“Jadi kami meminta mereka untuk mengurung sapi-sapi tersebut agar kami dapat memantaunya selama masa rutting,” kata Kurniawan.
Sementara itu, Kurniawan mengatakan bahwa keuntungan lain dari adanya kandang sapi adalah adanya pupuk organik yang terbuat dari kotoran sapi, mulai dari urine hingga limbah kotoran, yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.ADV
![]()












